Posts Subscribe to This BlogComments

Follow Us

Artikel Terbaru

1 2 3 4 5
Merry Christimas and happy new year ! Bagi yang ingin dibuatkan cerita silahkan komentar atau add fb saya

Sabtu, 10 Desember 2011

The choosen cherry blossom 5 cm per second

Episode I :
The Choosen Cherry Blossom
(Bunga Sakura pilihan yang Gugur)
Narator : Takaki
         



     Aku akan menceritakan mu sebuah kisah nyataku .sebuah kisah cintaku dengan seorang perempuan yang sudah aku kenal sejak lama. Cinta yang masih ku simpan sampai saat ini.Sosok Seorang perempuan yang tidak akan pernah hilang dari memoriku. Saat itu musim  gugur mulai berakhir dan akan berganti menjadi musim dingin. Daun daun rindang akan gugur dari dahannya dan akan tertiup oleh angin , sore yang cerah menerangi kota Kyoto tahun 1990.

Saat itu aku masih duduk di bangku SD kelas 2. Aku selalu pulang bersama seorang teman perempuan . Dia bernama Shinohara Akari. Kami sudah cukup lama saling kenal. Sejak kami berdua menjadi murid pindahan di sebuah sekolah dasar di Hoshii. 

Sore itu, kami berjalan melewati sebuah taman. Kami melewati sebuah pohon Sakura yang sudah cukup tua usianya. Akari pun menghentikan langkahnya dan aku pun begitu. Tiba tiba dia melihat kearah pohon itu, dan berkata “Kau tahu takaki?. Aku pun hanya bisa menanggapi nya dengan rasa penasaran. “hmm apa?”. Dengan wajah bingung aku memerhatikan perkataannya.
“ Bunga sakura yang jatuh perlahan beruguran berpencaran dari pohonnya hanya dengan kecepetan 5 cm per detiknya, Mungkin jika ada manusia yang saling berhubungan satu sama lain lalu lambat laun berpisah mengikuti jalan hidup masing masing bagaikan bunga sakura itu.”. kata kata itu membuatku semakin bingung. Pengetahuan akari yang masih duduk dikelas 2 SD membuatku kagum. Tapi aku tahu Sakura mempunyai arti bagi kehidupan antara 2 orang yang akan saling berpisah suatu saat nanti.
Tiba tiba Akari berlari dariku, berlari dengan tawa kecilnya. Aku pun mengejarnya ke arah persimpangan  jalan dan Rel kereta api. Portal penghalang rel kereta tiba tiba mulai menutup dan sebuah kereta lewat. Aku menunggu kereta itu lewat sampai  sosok Akari tampak diseberang.
Dengan wajah manis dan senyumannya dia menatapku sambil membuka payungnya, “Takaki !, aku ingin sekali melihat Bunga sakura yang gugur lagi bersamamu.”

Keakraban kami sangat baik sekali walau sebenarnya kita tidak saling mengenal satu sama lainnya. Aku akan menceritakan kisahku dengan dia saat masih duduk di kelas 2 SD. Akari sebenarnya adalah murid pindahan dari Yokohama sedangkan aku adalah murid pindahan dari Kota Hime. Aku sangat tidak menyukai olahraga saat itu sehingga membuatku tidak pernah mengikuti olahraga dan lebih menghabiskan waktu di perpustakaan.
Aku tak menyangka bahwa akari sama sepertiku, dia tidak menyukai olahraga sama sepertiku. Kami saling berpapasan di lemari yang sama dengan buku favorite yang sama tentang Biologi. Akhirnya kami  membahas pelajaran ini bersama dan membuat kami menjadi lebih akrab dari sebelumnya.
Arah pulang kami pun sama sehingga kami selalu pulang sekolah bersama. Melewati persimpangan tabayashi, mengunjungi Mc Donald saat makan siang, dan kadang kami bermain dengan kucing tetangga yang selalu muncul di taman. Saat makan siang akari membuat setumpuk kentang Goreng menjadi susunan sebuah makhluk Purbakala.
“Takaki lihat, ini fosil Seekor Cladoselache”, dia menunjukannya padaku. “itu apa?” kepolosanku membuat aku terlihat seperti tidak tahu apa apa.
“ini adalah ikan zaman purba, dia memiliki sirip yang tidak bisa digerakan”. Akari menjelasnya padaku. Pengetahuannya tentang semua itu karena dia sangat tertarik dengan hal prasejarah. Cukup heran untukku tapi itu membuatku sangat kagum lagi dengannya. Akhirnya kami pulang bersama, membicarakan hal yang menarik untuk dijadikan topik selama berjalan.
Akhirnya sebuah persimpangan tiga dimana kami berpisah, aku kearah kiri dan dia kearah kanan. Rumah kami tidak terlalu jauh , hanya beberapa blok saja. Kadang Akari selalu mampir kerumah untuk belajar bersamaku, dan setelah itu kami bermain keluar bersama. Memandangi pohon sakura itu sesekali.
“Indah sekali Pohon itu,” ucapnya. “kau tahu, Bunga Bunga sakura itu jika sudah gugur mirip sekali seperti hujan salju, hanya saja lebih lembut dan hangat”.Akari tersenyum manis lagi . kami berdua memandanginya dari bangku taman.  Hari berjalan cepat dan  semakin gelap, kami Pun pulang.
Semua hariku berubah ketika Akari menelfon ku kerumah ,Ketika itu Musim dingin sudah tiba, malam itu aku sedang mengerjakan tugas sekolahku, ibuku mengangkat telfon itu dan menyerahkannya padaku. Aku mengambil telfon genggam itu lalu menjawabnya. Di jauh sana, Akari terdengar sangat meragu. Aku menanyakan kabarnya dan ada keperluan apa dia menelfonku malam itu.
“takaki, kau tahu kan kalau orang tuaku masih melakukan pekerjaan pindahan?” dia berkata.
Aku menjawab , “ya tapi itu hanya ayah dan ibu mu saja kan?”,
“aku tahu, tapi…orang tua ku akan menitipkan aku pada bibiku di tochigi, jadi..aku akan pindah sekolah lagi”.
Aku mulai kaget dengan kabar dia beritahukan padaku, “tapi…”
“Takaki…aku minta maaf ..“ . dia mengucapkan kata maaf padaku tapi itu membuat sesuatu yang menganjal di hatiku. Hati ku terasa sakit malam itu mendengar Akari akan pindah. “Tidak…tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi.” Aku menutup telefonku , menangis malam itu, merundukan tubuhku.tapi aku tahu kalau diluar sana Akari juga menangis sedih, dia akan meninggalkanku. Akan terasa sunyi tanpa kehadirannya disekolah. Rasa Berat dan terpaksa membuat nya akan lebih sedih lagi jika dia tahu aku sedih.
Keesokan harinya , aku berangkat sekolah seperti biasa. Tapi. Hanya ada satu yang berbeda. Tak ada  Akari disampingku karena biasanya kami juga sering berangkat bersama. Setelah sampai, Aku melihat Akari dan ayahnya mengurus kepemindahannya. Aku ingin menyapanya tapi sangat rasanya berat bagiku. Akari menoleh kepadaku , dia menghampiriku . aku hanya bisa menundukan kepalaku. Tapi , Akari memegang pundakku, dia menyuruhku melihat wajahnya. “Takaki, tidak usah sedih. Aku senang bisa berteman denganmu. Walaupun kita berpisah seperti bunga sakura yang gugur, Tapi aku ingin pertemanan kita tidak berakhir sampai disini, Kita akan bertemu lagi suatu saat. ” Mendengar kata kata itu dari Akari membuatku semangat lagi, ucapannya membuatku akan terus mengingat dirinya. Di lobi sekolah. Aku pun akhirnya membuat salam perpisahan padanya. Aku memandangnya kearah pintu sekolah. Semakin jauh dan jauh akhirnya Pintu Sekolah tertutup dimana Akari keluar dari Pintu itu.
Aku sendiri lagi tanpanya…

7 tahun pun berlalu dan saat itu aku sudah duduk dikelas 3 SMP.  Sudah hampir menjelang ujian kelulusan, tapi aku tetap masih memikirkan Akari. Selama itu aku aku masih bisa mengingatnya. Kami pun sebenarnya menang selalu saling surat menyurat, walau jarak memisahkan kita, tapi aku masih bisa mengkontak Akari, bahkan Akari pun sudah memberikan nomor ponselnya padaku, tapi aku belum pernah menelfon atau mengirim pesan padanya, bagiku surat menyurat lebih menyenangkan karena aku masih bisa merasakan wangi tangannya saat dia memegang kertas itu.
Awalnya aku tidak tahu alamat tempat tinggal Akari , tapi saat itu sebuah surat masuk ke kotak Pos ku . Sebuah Surat dari Akari di Tahonaka. Surat pertama kali yang dia sampaikan padaku.
“Hi Takaki, lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu saat ini? maaf aku baru bisa memberikan kabar tempat tinggalku. Karena banyak tugas disekolah yang harus ku selesaikan. Tapi akhirnya aku punya waktu luang untuk menulis surat ini.
Hi apakah kau ingat? aku masih ingat musim dimana kita melewati Sebuah pohon sakura yang gugur. Saat itu awal musim dingin, kita berjalan bersama melewati persimpangan itu. Tapi, selain itu sebenarnya aku ingin mengingatmu, aku ingat saat dimana kau selalu disisiku. Kau selalu menjadi teman bermainku. Aku ingin mengingatmu selalu. Jadi…apakah kau masih ingat padaku, Takaki?”
Setelah membaca surat itu, aku berlari kedalam rumah, masuk kedalam kamarku, mencari selembar kertas dan langsung menjawab suratnya.  Aku memberi tahu keadaanku dan aku pun menanyakannya dengan penuh semangat. Aku benar benar tidak menyangka bahwa dia akan mengirimkan surat padaku. Aku pun  memberi tahu bahwa aku akan pindah ke Kagoshima, sangat jauh dari jarak Akari tinggal sekarang.
Kami pun saling surat menyurat hingga sebuah surat terakhir Akari sampai padaku. Aku dan Akari memiliki ide yang sama. Kami berencana Hendak bertemu sebelum kelulusan SMP dan sebelum aku dan ibuku pindah ke Kagoshima, sebelum jarakku dan Akari terpisah lebih jauh lagi.
Aku pun membaca surat itu

“ Dear Takaki, aku dengar kau akan pindah ke Kagoshima, itu Tempat yang cukup jauh dan Asing dari jarak rumahku. Karena sebentar lagi aku pun akan pindah lagi mengikuti Orang tuaku. Kami akan pindah ke Osaka. Bagaimana pun kita mungkin tidak akan bisa bertemu lagi. Jadi aku ingin kalau kita bisa bertemu di Stasiun Tochigi dimana Aku tinggal saat ini. Mungkin cukup jauh untukmu tapi mungkin dengan kereta kau pasti dapat sampai kesini. Aku sudah membuatkan mu peta agar bisa Sampai kesini.
Aku sangat Senang Jika kita dapat bertemu lagi. Bagaimana kalau kita bertemu untuk melihat Pohon Sakura? Disini ada Sebuah Pohon sakura besar yang sangat indah sekali. Tapi sudah Gugur. Tapi aku ingin menunjukan Sesuatu padamu. Jadi aku harap sekali lagi kita bisa bertemu.“
Aku sangat Senang Sekali melihat surat ini. Aku segera melihat tanggal dimana hari kemungkinan aku bisa bertemu dengannya. Akhirnya rencana kami untuk bertemu dimulai. Aku pun segera mencari Secarik Surat yang pernah Aku tulis untuk mengungkapkan sebuah Perasaan untuk Akari tapi tak sempat ku sampaikan. Jadi melalui pertemuan ini aku akan menyerahkan surat ini padanya.
September 1997, Saat itu sudah memasuki Musim Dingin. Sekolah pun pulang lebih awal. Hari itu aku merencanakan untuk segera berangkat ke sana. Aku pun sudah memberitahu Akari kalau hari itu aku akan berangkat menemui nya. Akari pun berkata dia akan menungguku Pukul  7 malam. Semangatku hari itu tinggi sekali. Pelajaran tambahan yang aku ikuti ternyata menghambat rencanaku untuk berangkat lebih awal pukul 2 siang.  Kelas selesai Pukul 3 sore, aku mulai membereskan tas ku dan sudah siap. Di luar tampak Salju yang mulai turun secara perlahan.
Aku menulis surat untuk ibuku di sebuah loker sepatu kalau aku hendak pergi menemui seseorang. Aku tahu kalau ibuku akan mengizinkan aku karena dia percaya padaku. Pukul 3 Sore pun aku mulai Pergi ke stasiun. Aku tidak perlu khawatir karena aku sudah terbiasa pergi dengan kereta .
Akhirnya kereta yang aku tunggu pun tiba. Aku menaiki kereta itu menuju arah utara.  Menuju arah Tohonaka. Dimana Akari Sedang menungguku. Kereta yang berjalan semakin melambat karena Hujan Salju mulai Deras. Akhirnya Kereta berhenti di stasiun pertama. Tapi tiba tiba dari macrophone mengumumkan kalau Kereta akan tertunda selama 15 menit. Aku segera menuju toilet untuk menyegarkan wajahku. Sesekali aku melihat arah jam. Jam menunjukan pukul 3.15 sore tapi awal tebal sudah  seperti menunjukan pukul 6 sore.
Selama perjalanan Aku hanya berfikir pada Akari. Bertemu dengan seorang perempuan yang sudah lama tak bertemu membuat hatiku bergetar. Karena aku pun belum pernah melihat lagi wajahnya yang manis. Mungkin dia akan semakin manis dan cantik. Tapi bukan itu yang ada dalam pikiranku. Aku hanya memikirkan bagaimana sikap yang harus ku perlihatkan saat bertemu dengannya.
Kereta mulai berangkat lagi. Aku tetap berdiri walaupun Bangku di dalam gerbong kosong. Aku tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Akari. Ketidak sabaranku membuatku tidak bisa tenang sekaligus Gugup. sesekali lagi aku melihat jam tanganku. Menunjukan pukul 4 sore. Aku berharap aku bisa tepat waktu sampai disana.
Kereta yang harusnya tidak berhenti di stasiun akhirnya berhenti karena ada penundaan rel jalur yang masih dilewati oleh sebuah kereta lain. Dan itu memakan waktu 40 menit untuk menunggu penundaan tersebut.  Akhirnya aku memutuskan untuk mengganti kereta yang aku naiki kearah jalur yang lebih jauh menuju stasiun tohonaka. Aku berharap dengan pindahnya kereta yang aku naiki membuatku lebih cepat sampai. Tapi disinilah hambatan-hambatanku mulai muncul.
Delay waktu berlangsung 15 menit dan kadang 30 menit. Satu per satu stasiun dikunjungi untuk menunggu penundaan jalur kereta yang tertutup tumpukan salju. Aku tetap menungu didalam kereta. Tanpa sadar aku lupa menutup tombol pintu kereta dan membuat seorang kakek disampingku kedinginan. Semua hal yang ada dipikiranku membuatku lupa akan hal di sekelilingku.
Akhirnya kereta mulai berangkat lagi. Dan jam sudah menunjukan Pukul 6.15 Sore. 45 menit lagi aku harus bisa sampai disana. Tapi dengan Penundaan waktu yang terus menerus memungkinkan ku datang telat. Belum setengah perjalanan menuju Tohonaka. Badai Salju diluar semakin kencang. Akhirnya aku sampai di stasiun Ona. Perjalanan Kereta tertunda selama 30 menit. Aku memutuskan untuk keluar dari kereta dan menunggunya.
Aku melihat di ujung kios beberapa orang sedang menikmati ramen nya. Ku urungkan niatku untuk membeli ramen karena waktu untuk makan tidak akan cukup dan aku juga tidak cukup uang untuk membelinya. Jadi aku memutuskan hanya membeli sekaleng cokelat yang hangat dari mesin minuman. Saat aku hendak menarik dompetku, Surat yang ku selipkan pun tertarik dan tertiup angin kencang. Surat yang ku tulis untuk Akari Hilang begitu saja. Aku menagis saat itu dan merundukan kepala. Kini aku tidak bisa member tahukan Perasaan sesungguhnya kepada Akari. Aku ingin sekali mencari surat itu, tapi akhirnya aku memutuskan untuk masuk kedalam kereta, Mengurungkan niatku yang hendak membeli sekaleng cokelat hangat.
Kereta mulai berangkat, Dan badai salju semakin ganas diluar sana. Aku duduk dan menyender kearah jendela. Memandang badai yang ada diluar sana membuatku terasa menggigil. Jam pun sudah menunjukan pukul 7 malam tepat. Aku terus memandangi jam tanganku. Aku harap perjalanan ini cepat sampai karena waktu berjalan sangat cepat sekali. Dan perjalanan ini terasa sangat lambat. Rasanya belum sampai setengah perjalanan menuju Tahonaka.

Aku rasa badai ini ingin menghambatku untuk bertemu Akari…

Kereta berhenti di stasiun demi stasiun dengan penundaan yang selalu terjadi. Perjalanan yang tertunda ini membuatku sudah telat dengan waktu yang disepakati kita berdua. Sudah pukul lewat jam 7 malam.  Dan ini masih baru setengah Perjalanan berlangsung. Semangatku untuk bertemu Akari menjadi rapuh. Aku pikir mungkin Akari tidak mungkin datang pada Cuaca buruk seperti ini . dan mungkin juga dia sudah pulang kerumah bibinya dengan rasa kecewa. Aku juga yakin kalau mungkin Akari sudah menunggku saat ini.  Menungguku dengan tidak sabar, memandangi orang orang yang lewat di stasiun itu. Berharap aku sudah datang. Sementara aku, masih terjebak dengan kereta dan badai sial ini.
Waktu pun berjalan sangat cepat. Jam sudah menunjukan pukul  10 malam. Kereta yang ku naiki melewati  stasiun ke dua sebelum tahonaka. Tapi badai salju yang masih berlangsung membuat perjalanan ini sangat lambat sekali. Kereta yang kunaiki berjalan sangat lambat. Memakan 30 menit agar bisa sampai ke stasiun selanjutnya. 1 Stasiun lagi agar sampai menuju tahonaka. Aku tahu ini sudah sangat terlambat. Mungkin Akari sudah pulang saat ini. Mungkin semangatnya untuk bertemu denganku menjadi kekecewaan yang besar.
Aku hanya bisa menunggu dan menunggu . Tiba tiba, Kereta yang sedang berjalan lambat ini berhenti. Aku ingin tahu apa yang terjadi tapi ternyata Sebuah tumpukan salju tebal sejauh 10 meter menghalangi jalur kereta. Akhirnya Macrophone memberitahu kalau kereta akan tertunda selama 1 jam. Mendengar hal itu hatiku mulai berdebar kecewa dan pasrah mengelilingi ku. Aku melepas jam tanganku dan meletakannya di samping jendela.
“Akari…jangan katakan padaku kalau kau masih menungguku.” Aku merundukan kepalaku dan hanya bisa menangis. Itulah yang hanya bisa lakukan, menangis dan pasrah. Membuatku sedikit lelah karena rasa lapar yang tertahan selama 7 jam.  Kereta mulai berjalan lagi setelah penundaan waktu selama 1 jam, dan waktu sudah menunjukan  pukul 11 malam.
Akhirnya aku sampai di stasiun Tahonaka. Suasana yang sangat sepi malam itu di stasiun. Tak ada seorang pun. Akhirnya aku mulai masuk kedalam stasiun. Saat aku masuk, tampak dari ujung  aku melihat seorang perempuan yang sedang duduk dan terlihat lelah sekali. Itu Akari, dia menungguku. Perempuan yang sudah lama tak pernah ku temui menantiku selama ini. Aku berjalan menujunya dan berdiri didepannya. Akari pun terbangun dari tidurnya, dia memandangku dengan wajah terkejut. Matanya yang masih mengantuk berubah mengeluarkan Air mata. Dia segera memegang tanganku dengan erat. Aku pikir mungkin dia akan marah padaku tapi..
“Takaki….aku merindukanmu…aku sangat merindukanmu..”
Dia mengucapkan itu padaku. Aku sangat merasa tidak enak sekali membuat dia menunggu selama ini tapi dalam hati aku juga memang merindukannya. Dia memelukku setelah itu. Rasa rindu kami benar benar membuat kita ingin selalu bersama.
 Akhirnya kami mulai berbincang bincang, dia mulai bercerita tentang masa lalunya di SD bersamaku. Bernostalgia bersamaku mungkin akan lebih baik untuk dijadikan topic bicara. Lalu akhirnya Akari membuka Bekal yang sudah dia sediakan dari rumah. Dia membawakanku bekal sebanyak itu agar bisa kita makan bersama. Akari menuangkan Teh hangat untukku dan menyajikan Susi dan nasi gulung yang sudah dingin.  Tapi untukku makanan akan terasa hangat jika kita makan dan bagi bersama karena itulah fungsi kebersamaan. Menghangatkan kita satu sama lain.
Lalu dia juga mulai menceritakan kalau dia akan pindah ke Osaka. Sangat jauh dari rumah yang akan ku tempati selanjutnya di Kagoshima. Mungkin ini akan menjadi pertemuanku yang terakhir dengan Akari karena dengan Jarak Sejauh itu tidak mungkin kita bisa saling bertemu satu sama lain lagi. Jarak tempat tinggal kami akan semakin jauh lagi seperti bunga sakura yang mulai berpencar tak mengenal arah dan Jarak.
Seorang petugas penjaga tiket kereta mengetuk kaca , mengisyaratkan pada kita kalau stasiun akan tutup sebentar lagi. Kami pun bergegas keluar dari stasiun dan mulai menuju tujuan kita . melihat Pohon Sakura bersama. Akari berlari sedikit kearah jalan mengisyaratkan ku agar aku mengikutinya. Aku dan Akari berjalan bersama. Disekeliling aku melihat ladang ladang yang luas tertutup salju. Dari situ tampak Sebuah Pohon Sakura Raksasa. Akari menunjukan Pohon itu padaku. Kami pun pergi kearah pohon itu, dan mulai mengelilinginya.
Kami pun berdiri dibawah pohon itu. Memandangi salju yang mirip seperti Bunga Bunga Sakura yang berguguran. Hanya lebih lembut dan dingin. “Indah Sekali ya kan Takaki, Salju ini seperti menggantikan Bunga bunga sakura yang gugur”. Ucapnya. Aku mulai memandang dirinya, Akari pun memandangku. Kami mengacuhkan perhatian kami pada salju salju itu. Saling menatap dan memandang. Salju dan Pohon sakura yang memandangi kita saat ini. Akari mendekatkan Mukanya padaku, menempelkan Bibirnya yang lembut pada bibirku. Ciuman pertama kita malam itu terjadi begitu saja.
Saat ciuman itu, Rasanya Semua Beban ku setelah melewati perjalanan yang melelahkan itu hilang begitu saja, dan tentang suratku untuk Akari yang sudah kuhilangkan tak ku pedulikan.  Aku merasakan Bibir Akari yang lembut itu untuk pertama kalinya, manis semanis madu yang masih terasa dan segar. Dan Aku pun merasakan kalau Akari lah Cintaku. Dari Ciuman itu aku sadar bahwa aku sudah benar benar mencintai Akari sepenuh Hati. Ciuman pertamaku dengannya akan mengubah segalanya. Aku berjanji  takkan memberikan ciuman ini pada semua wanita yang akan kutemui nanti.Tanda Ciuman ini adalah tanda cintaku. Perasaanku yang sudah terungkap kepadanya.
Dan Memori yang takkan bisa ku hapus dari Hidupku.
Cinta Sesungguhnya yang mungkin takkan terlupakan untukku.

Malam semakin Gelap dan awan menutupi bintang dan bulan. Kami pun mencari tempat untuk istirahat dan kami memasuki Gubuk tua yang masih bagus untuk ditempati. Akari mengizinkanku untuk tidur didekatnya. aku sudah berjanji  pada diriku, jika Akari mengizinkan ku tidur bersamanya, aku takkan melakukan apa apa padanya. Aku ingin Akari tetap baik baik saja setelah pertemuan kami ini, kami tidur saling menyelimuti diri . Akari menyender padaku. Dan dalam tidurku, aku sedang bermimpi yang akan ku ceritakan nanti di Cerita selanjutnya “Cosmonout”.
Pagi pun mulai menggantikan Malam yang dingin dan gelap. Burung burung berkicau lagi dan salju terlihat sangat putih sekali. Aku menuju Stasiun untuk pulang menuju Kyoto. Akari mengantarkanku ke Stasiun. Disitulah perpisahan ku dengannya, Saat aku masuk kedalam kereta, aku melihat Akari membuka resleting tasnya dan aku melihat ada sebuah surat yang hendak disampaikan padaku tapi dia urungkan kembali. Dia kembali menutup Tas itu. Sebelum aku bertanya, kereta pun mulai berangkat. Akari berteriak dari arah Kereta “Takaki !!...sampai jumpa lagi, aku akan merindukanmu  !!..”

Dia merundukan kepalanya, aku melihatnya sangat sedih. Aku pun membuka jendela kereta dan berteriak ke arahnya. “ AKARI…AKUJANJI..AKU AKAN MENELFON MU!! AKU AKAN MENGIRIMMU PESAN”. Akari melihatku sekali lagi dan tersenyum. Perpisahan kami tak begitu indah tapi aku yakin itu akan menjadi hal yang takkan pernah kulupakan. Dari tampak jauh…Akari yang masih disana makin jauh dan makin tak terlihat lagi.

Aku harap setelah hari ini, hidupku akan lebih semangat lagi walaupun aku takkan mungkin bertemu dengan Akari lagi. . .


THE END
 episode I

Sumber : Anime 5 cm per second

Related Post



0 komentar:



:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Merry Christimas, Jangan lupa berkunjung lagi

Shirt Story

Lyrics Can - Winter Story


ShoutMix chat widget

Populer Post

 

Behind This Blog

Foto Saya
Kira Angelic
saya bercita cita menjadi novelis
Lihat profil lengkapku

Reader Community

Peringatan

Note : bagi yang ingin copy paste cerita saya ( cerita pendekar dan cerita lucu buatan saya ) mohon diberi sumber cerita dari www,yugitohimada.blogspot.com