Posts Subscribe to This BlogComments

Follow Us

Artikel Terbaru

1 2 3 4 5
Merry Christimas and happy new year ! Bagi yang ingin dibuatkan cerita silahkan komentar atau add fb saya

Minggu, 11 Desember 2011

5 cm per second Cosmonaut

Episode II :
Cosmonaut – Part I
(Cahaya di Angkasa)
Narator : Takaki

            

   Setelah lulus SMP, aku dan ibuku pindah menuju Kagoshima. Tempat ini cukup asing dari kota dan cuacanya berbeda dengan jepang bagian utara.aku mendaftar di Sebuah SMA swasta yang cukup baik. Hari hariku di sekolah biasa biasa saja, aku mengikuti program ekstrakulikuler yang aku sukai seperti memanah. Semua terasa biasa saja, walaupun ada terasa yang berbeda sekarang. Aku dan Akari tidak pernah saling surat menyurat lagi. Setiap kali aku memeriksa kotak Pos ku. Tak ada satupun surat darinya. Setiap hari saat ku pulang sekolah aku selalu memeriksa kotak Pos rumahku. Hari demi hari semakin tak ada kabar darinya.
                Sore itu aku pulang sekolah, aku pun tetap memeriksa kotak Pos, berharap ada sebuah Surat darinya. Aku sangat merindukannya hingga saat ini. Memori yang ada di otakku tak pernah melepaskan sosok Akari dari hidupku. Aku selalu menanyakan dalam hati “bagaimana keadaan akari sekarang”. Aku pun mencoba menulis sebuah surat lagi untuknya. Aku mencoba mencari alamat yang mungkin sekarang menjadi tempat tinggal Akari. Aku mencarinya di internet, tapi tak kutemukan satu alamat pun yang tepat.
                Aku pun mencoba mengetik sebuah pesan Di ponsel, mencoba mengirimnya SMS. Tapi setelah sebuah kata kata yang kutulis untuk Akari tak jadi ku kirim. Dan ku hapus segera. Sebuah kata kata yang sangat tak memungkinkan untuknya. Rasa lelahku pun membuatku tertidur. “Akari….dimana kau…”
                Dalam mimpiku, aku dan Akari ada disebuah bukit dekat Kagoshima, tempat tinggalku sekarang. Terlihat dari jauh sebuah kincir angin yang digerakan oleh angin angin yang berhembus tak tentu arah. Dan di langit , tampak sebuah cahaya Angkasa mengelilingi Langit.  Memberikan sinar warna yang tak tentu warnanya sehingga membuat langit itu begitu indah.  Sinar sinar kosmo itu membuat kita selalu memerhatikanya dengan seksama. Sebuah Arti yang tak mungkin bisa di ungkap. Apakah Tanda Dari cahaya Kosmo itu.
                Aku melihat Akari dari samping, menolehnya dan memerhatikannya sedang duduk manis dan tersenyum. Tak memerhatikanku tapi dia memerhatikan cahaya kosmo itu. Walaupun dia tahu kalau aku ada di sampingnya. Aku pun berdiri, dia pun berdiri. Tapi kami tetap tak saling memandang. Aku pun kembali melihat ke arah yang lain. Aku melihat seseorang yang sedang memerhatikanku dari arah yang lain. Seseorang yang selama ini selalu memerhatikanku tapi ku tak pernah memerhatikannya.
                Suasana dalam mimpiku saat itu membuatku tertidur lelap. Aku senang dapat bertemu dengan Akari sekali lagi walau pun itu hanya dalam mimpi dan Pikiranku. Sehingga membuatku tak ingin dari mimpi indah ini. Aku ingin sekali tetap dalam mimpi ini.

Cosmonaut – Part II
(Cahaya di Angkasa)


Narator : Sumida Akane
                Namaku Akane Sumida, umurku 16 tahun dan aku sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Aku tinggal di sebuah Tempat asing di jepang dengan musim Panas yang begitu panjang. Aku sekolah di sebuah sekolah swasta yang cukup sudah meraih prestasi. Dari dulu belum pernah merasakan yang namanya cinta. Sejak aku masih duduk di bangku SMP kelas 3. Semua rasa yang tak pernah kurasakan muncul saat seseorang yang tak pernah ada dalam pikiranku muncul.
                Aku ingin menceritakan bagaimana aku mencintai seseorang yang tak pernah ku ungkapkan cinta itu . walau pun nyaris saja aku bisa mengungkapkannya.  Saat itu aku masih di bangku SMA kelas 1. Hari hariku sangat kosong sekali. Aku hanya bisa memerhatikan kearah jendela memerhatikan lapangan sekolahku. Pagi yang cerah membuat semua orang orang bersemangat sekali untuk melakukan kegiatan mengajar . hingga saat itu, Guru kelasku dan kepala sekolah masuk kedalam kelas. Lalu mempersilahkan masuk seseorang. Aku melihatnya ke depan. Seorang laki laki bernama Takaki Tahona masuk ke dalam kelasku.
Aku melihatnya terus dan memandangnya hingga saat itu pandanganku dibalas olehnya. Itu membuat pipiku berubah menjadi merah merona. Aku merasa malu dan salah tingkah melihat seorang laki laki seperti dia. Sepertinya seorang pangeran telah muncul dihadapanku.  Wajahnya tak memperlihatkan kalau dia adalah orang yang bersikap dingin, tapi dia tidak terlalu sering bisa di ajak bicara.
Hingga menjelang Kelas 3 SMA, aku masih terpesona dengan Takaki. Mungkinkah aku jatuh cinta padanya? . Mungkinkah aku bisa mengungkapkan cintaku pada takaki? Walaupun saat itu aku sudah terlihat sangat manis sekali dengan rambut panjangku yang terurai rapi. Tak membuat Takaki memperhatikanku. Kekesalanku agak muncul sehingga aku memutuskan memotong rambutku. Tapi bagi teman teman ku yang lain, aku tetap terlihat manis dengan rambut pendekku yang sekarang.
Mungkin saja Takaki tak pernah Menyukaiku, mungkin bahkan tak pernah mencintaiku. Aku merasakan ada sesuatu yang mengganjalnya hingga dia tak pernah bergaul dengan teman teman perempuannya termaksud diriku. Walaupun begitu, aku masih merasa jatuh cinta hingga saat ini dengannya. Dari semua pria yang kukenal dikelas. Takaki mempunyai keelokan dan sifat yang tidak biasa. Membuatku penasaran dengannya.
Pagi sekali aku seperti biasanya, mulai berangkat sekolah. Kakakku menawarkanku agar bisa mengantarku kesekolah. Tapi aku tetap dengan niatku. Aku berangkat pagi pagi sekali menaiki sepeda Honda keluaran tahun 1997. Kakakku pun menyusulku dari belakang dengan Caravannya , karena arah ke pantai dan sekolahku sama, dan dia hendak berlatih seluncur air . pagi itu aku sangat semangat seperti sebelum sebelumnya. Pagi-pagiku selalu ceria setelah kehadiran Takaki.
Aku berangkat Pagi pagi sekali agar bisa memarkirkan motorku di tempat biasa Takaki memarkirkan motornya. Aku melepas helm ku dan dengan sedikit mengaca, aku merapihkan rambut pendekku yang masih berantakan. Aku pun  mulai berjalan kearah belakang lapangan sekolah. Dimana tempat latihan Ekskul memanah. inilah niatku datang pagi. Aku selalu ingin memerhatikannya saat dia sedang latihan memanah. aku bersembunyi dibalik pohon , memandangi dirinya .
“Tepat pada sasaran Takaki” salah seorang temannya memberikan selamat padanya. “terima kasih, itu hanya keberuntunganku saja. Kau juga tetap berlatih saja pasti bisa.” Dia selesai dari latihan memanahnya. Saat dia hendak membereskan Alat alat memanah, dia membalikan badannya dan melihat kearah pohon dimana aku bersembunyi.
“Akane, sudah datang pagi ya?”. Dia tahu aku dibalik pohon itu, aku menampakan diriku. Dan menjaga  tingkahku.  rambutku yang masih agak berantakan membuatku sangat malu sekali sehingga pipiku merah.
“uhh, um ia. Hari ini aku ada banyak tugas yang belum kuselesaikan dirumah jadi aku akan mengerjakannya sekarang.”.hal yang baru saja ku katakan membuatku malu . bukannya tingkahku yang menunjukan kesalahan tapi kata kataku yang membodohiku. Aku sangat malu dan gugup sekali berhadapan dengannya. Itu karena kami jarang sekali berbicara .
“itu tidak baik jika tugasmu bisa sampai belum selesai. Lebih kau masuk kelas dan menyelesaikannya sekarang”. Perintah darinya memang agak menyakitkan untukku tapi dilain hal, aku juga senang ternyata dia memerhatikanku, menyuruhku mengerjakan tugasku yang sebenarnya sudah kukerjakan dari awal. Kebohongan belaka yang ku buat membuatku tahu ada hal yang aku tidak tahu darinya. Dia peduli padaku.
Setelah pagi itu, selama pelajaran aku terus memikirkannya, kadang aku menoleh kearahnya. Dimana dia duduk di sampingku.  Aku tersenyum kecil dan pipiku mulai memerah lagi. Rasa gugupku memang membuatku tak berani mengatakan sesuatu padanya. Dan dari situ aku mulai mencoba keberanianku untuk dekat dengannya.
Siangnya kakakku menjemputku untuk selancar air di pantai, aku memberikan alasan khusus agar tak mengikuti latihan selancar dengan kakakku. Karena dilain rencana. Aku ingin mencoba mengajak Takaki pulang bersama . selama sore hari aku menunggu takaki yang masih mengikuti program ekstrakulikuler. Aku menunggu dibalik tembok luar kelas dekat parkiran motor. Aku menunggu hingga ia muncul.
Sambil menunggu aku merapihkan rambutku . seseorang pun berjalan dari arah Parkir motor. Takaki muncul. Lalu aku mulai menampakan diriku dari belakang.
“Belum pulang akane?”. dia menanyakan padaku. “belum, uhm aku baru saja selesai olahraga”. Aku mulai membohonginya lagi. “baiklah, kalau begitu kita pulang bersama saja, hari sudah semakin gelap.”. aku pun mulai pergi kearah motorku. Takaki menungguku menyalakan motorku. Dia pun sudah siap dengan motornya. tapi saat aku mencoba me-starter motorku, mesin motorku tak menyala. Bahkan pedal injak pun tak membuatnya menyala. Seharusnya aku memeriksa busi motorku sebelum berangkat sekolah.


Takaki pun menawarkanku Pulang dengan motornya. aku pun setuju. Sore itu aku dan Akaki pulang bersama. Hal jarang pernah kulakukan. Ini pertama kalinya aku pulang bersama takaki .aku tak memperdulikan motorku yang ku tinggal disekolah karena aku yakin motorku akan aman aman saja disana.kami pergi ke minimarket membeli minuman. Aku memerhatikan Takaki mengambil sekaleng Cokelat dingin. Dan aku lebih memilih membeli Jus jeruk dalam kemasan kesukaanku. Kami minum bersama di bangku mini market itu. Mulai saling berbicara walau awalnya sulit sekali untuk mengajak Takaki bicara. Setelah selesai Takaki mulai bersiap untuk mengantarku pulang.  Aku sampai dirumahku, kutawarkan Takaki agar mampir kerumahku. Dia menjawab dia tidak bisa karena dia akan mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok. Hal itu membuatku ingin mengerjakan tugas itu segera.
Akhirnya takaki pergi, tanpa mengucapkan apa apa padaku. Dia menjauh dan semakin jauh. Aku memerhatikannya dari depan rumahku. Wajah ku tak menunjukan rasa senang lagi, rasanya sedih sekali saat dia tak mengucapkan apa apa padaku. Anjing peliharaanku , Chiko menghampiriku dari dalam rumah. Dia menjemputku dan mengantarkanku kedalam. Aku masih beruntung mempunyai anjing peliharaan yang benar benar perhatian padaku.
Andai saja, Takaki seperti anjingku, peduli padaku…diriku akan sangat senang sekali
Keesokan harinya aku pun berangkat kesekolah dengan Semangat. Kakakku mengantarkanku ke Sekolah dan sekaligus membawa motorku yang rusak.  Kakakku menyuruh ku untuk latihan selancar sore ini, Karena bulan depan aku memang harus bersiap mengikuti lomba selancar air. Aku berjalan menuju kelas, merapihkan rambut pendekku, dan menunggu takaki masuk kelas.  Bagiku dia benar benar inspirasi bagiku.  Dan saat sore kemaren itu yang membuatku terasa lebih dekat dengannya. Wangi parfum yang dia gunakan benar benar menarikku sekali.
Sorenya kakakku menjemputku di sekolah dan segera menuju pantai. Jarak antara Rumah ku dengan pantai tidak terlalu jauh. Aku beruntung rumahku memiliki pantai yang sempurna dengan bukit bukit pasir yang tersusun alami. Membuat sebuah pemandangan yang cukup indah . Dan ombak ombak yang cukup besar untuk bermain selancar air. Teman temanku yang lain pun sudah menungguku. Aku bergegas mengganti pakaianku dengan baju renang. Batas antara garis kulit putihku dan kulitku yang aga gelap terlihat jelas. Tapi itulah jika aku memang sering dibawah matahari.
Sore itu aku bermain seluncur air. Tapi tetap saja aku terjatuh dari selancarku, ini tak biasa buatku. Terjatuh dan terjatuh karena aku tak bisa berkonsentrasi. Air asin yang menancap lidahku membuatku geli dan membuat mataku terasa perih. Sore itu aku tak bersemangat bermain seluncur air. Akhirnya aku kembali ke pantai dan mengganti bajuku.
Sore menunjukan pukul 6 sore. Kakaku mengantarku kebengkel untuk mengambil motorku yang sudah diservis. Aku melewati jalan biasa aku pulang sekolah. Dikejauhan tampak sebuah motor yang sedang diparkir dipinggir jalan. Aku pun berhenti dan memarkirkan motorku dibelakang motor itu. Aku tahu kalau itu motor Takaki, tapi aku bingung apa yang sedang dia lakukan malam malam di bukit sunyi seperti ini.
Aku berjalan menuju bukit yang semakin meninggi , tampak Takaki sedang duduk santai dan Seperti sedang memerhatikan sesuatu. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Dia sedang menggenggam handphone nya, seperti sedang mengetik sesuatu di ponsel nya.
“Takaki, sedang apa malam malam begini sendiri? Belum pulang?”, aku mulai menyapanya.
“ouh..Akane, bagaimana kau bisa disini?” dia terkejut melihatku  dan segera menutup handphone nya.
“aku lewat sini dan aku melihat motor mu disini. Jadi aku kesini untuk memastikan kalau itu memang motormu.”. aku menjawab dengan nada biasa. “apa yang sedang kau lakukan disini?” aku memberanikan diri untuk bertanya.
“tidak, tidak sedang apa apa, aku hanya sedang bersantai saja…banyak pikiran hari ini, dan mungkin duduk di bukit ini akan menghilangkan beban pikiranku.” Mendengar kata itu membuatku sadar kalau saat itu banyak pikiran yang ada didalam benakku.
” biasanya, jika aku ingin melupakan pikiran ku, aku selalu melihat kearah langit. Melihat ke luar angkasa dimana masih banyak hal hal yang menakjubkan yang tak diketahui umat manusia. Rasanya pikiran beratku pudar begitu saja karena keindahan cahaya luar angkasa di luar sana .” aku mengeluarkan gagasan ku, agar dia melakukan hal yang biasa aku lakukan saat pikiranku tak tentu arah.
Dia melihat kearah langit itu. Memandang cahaya langit yang tampak oleh kedipan kedipan bintang yang bersinar. “kau tahu Akane, cahaya bintang itu benar benar indah sekali. Mereka terlihat dekat sekali walaupun sebenarnya jarak antar bintang bintang itu berbeda. Apakah…hal itu berlaku untuk manusia juga.?”.  aku pun mulai berfikir sejenak sambil memandang langit malam .
“ku rasa memang ia. Saat itu kau merasa jauh dari seseorang. Tapi sebenarnya seseorang itu sudah terasa dekat dengan kita.  Hal itu membuat kita sadar akan satu hal. Orang yang sudah terasa dekat dengan kita membuat hidup kita yang tadinya hampa menjadi semangat.”. aku mulai berbicara dengan semangat. Mengungkapkan sedikit hal tentang sesuatu yang membuatku semangat selama ini. Walau dia tidak tahu kalau dialah yang membuatku semangat selama ini. Tapi aku tetap menyembunyikan perasaan ini hingga waktunya tiba untuk bisa aku ungkapkan .
 dia menoleh padaku.  Tersenyum, dan lalu melihat lagi kearah langit itu. Malam itu , kami berdua saling berbagi hal dan pengalaman. Walaupun itu hanya singkat. Saat kami hendak pulang. Awan yang tadinya cerah berganti menjadi hujan deras. Kami pun pulang berhujan hujan . berjalan mengendarai motor kami perlahan lahan. Takaki menyuruhku agar jalan didepan. Agar jika ada apa apa dia bisa menolongku.
Kami pun tiba di persimpangan , dimana ada sekelompok orang yang sibuk , memblok jalanan. Sebuah truk melewati  jalur  vertikal. Dan ternyata di wilayah Kagoshima akan dijadikan tempat peluncuran Pesawat NASA. Satelit yang diimport oleh jepang. Kami melihat Roket yang di angkut oleh truk pengangkut. Memakan waktu 10 menit menunggu penyebrangan truk tersebut.
Setelah sampai dirumah. Anjingku menjemputku lagi. Dari luar pagar. Takaki melambai tangan padaku. Aku melambai tanganku kembali padanya. Aku tersenyum dan sangat senang malam itu.
Hujan masih Menurunkan air hujan yang sangat deras. Aku segera mengganti baju dan mencari kasur hangatku yang biasa ku gunakan saat tidur di lantai ranjang. Aku dan anjingku saling menyelimuti. Aku pun mengajaknya bercanda. Lalu aku mengatakan pada anjingku.
                “Kau tahu chiko, ada seorang pangeran yang kelak akan menjadi kekasihku. Dia baru saja mengatarku pulang kemaren. Kau tahu kan. Aku sangat senang jika bisa bersamanya. Hihi “(giggles).

Aku pun terus mengkhayal saat aku bisa bersama Takaki. Rasa khayalku menghilangkan rasa laparku. Ibu dan kakakku ku pun heran melihat tingkah anehku malam itu. Kari ayam yang sudah disediakan oleh kakakku pun jadi , tapi aku tetap tidak mau makan. Aku lebih suka tetap dalam khayalanku dengan Takaki. Melupakan rasa lapar ku. Kakakku menyajikan Kare hangat padaku. Hujan memang semakin deras dan udara semakin terasa dingin. Walaupun begitu, akhirnya aku segera menyantap Kare ayam ku.
Keesokan harinya aku sangat optimis sekali .aku berniat untuk mulai mengungkapkan perasaanku selama ini pada Takaki. Kali ini aku akan pulang Dengan Takaki lagi. Aku benar benar sudah berdandan rapih. Aku menjepit bagian rambut depanku. Agar terlihat manis saat didepannya. Dikelas aku hanya bisa melamun saja. Sehingga teman temanku bertanya ada apa dengan tingkahku hari ini. Aku menjawab kalau saat ini aku sedang dekat dengan Takaki. Semua teman temanku terkaget kaget dan mengiri iri padaku. Seperti 1 kelompok Fans berat nya. Aku senang sekali karena aku merasa menjadi perempuan pertama yang bisa dekat dengan Takaki. Jam demi  jam ku nanti hingga pukul 3 sore . aku tak sabar untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Seperti ada sebuah BOM yang tak sabar untuk meledakkan dirinya.
Bel panjang berbunyi. Waktunya kelas bubar. Akhirnya waktuku tiba juga. Aku segera berlari kearah parkiran motor. Mengaca pada spion motorku untuk melihat apakah rambutku masih rapi. Lalu setelah itu aku bergegas bersembunyi di balik tembok luar kelas hingga Takaki muncul.
Meskipun setelah sejam dia belum muncul aku tetap sabar. Akhirnya dia muncul . Takaki mulai mengambil helmnya dan mulai menyalakan starter motornya. aku tak percaya Takaki tak sadar kalau aku ada di balik tembok. Dengan segera aku menampakan diriku dari balik tembok. Dia menoleh padaku dan mulai heran.
“Akane? kau belum pulang?”, pertanyaannya tak mendukung suasana yang ingin kurasakan. Tapi dengan sedikit improvisasi aku berbicara.
“aku, aku baru saja dari perpustakaan meminjam buku.”. kebohongan yang tak biasa. Aku rasa Takaki tahu kalau sebenarnya aku tak terlalu suka membaca. Tapi hanya alasan itu yang bisa kubuat agar dia tidak curiga.
“baiklah. Kau mau pulang bersama? Mungkin saja motormu tak bisa menyala lagi?”. Dengan segera aku tak menanggapi pendapatnya. Motorku baik baik saja. Akhirnya kami pulang bersama. Aku dan Takaki tak saling berbicara. Karena kami memang sedang mengendarai motor. Aku hanya mengikuti Takaki saja.

Kami berhenti di minimarket yang selalu aku dan takaki kunjungi. Kali ini takaki membeli sebuah kopi dingin yang dikemas . dan aku membeli sebuah jus jeruk berkemasan medium. Kali saja dia mau kutawari minuman kesukaanku. Setelah menyelesaikan minumanku, aku mulai membuat siasat. Sebenarnya saat kami memasuki minimarket. Aku mengganti busi ku yang masih baru dengan yang sudah rusak. Dan motorku benar benar tak bisa menyala lagi.
Takaki memeriksa keadaan motorku dan memang benar benar tidak bisa dinyalakan. Takaki pun akhirnya mengajak ku berjalan kaki saja. Dia tak menggunakan sepeda motornya dan meninggalkannya bersama motorku yang rusak itu. Dari situ aku mulai melakukan keberanianku. Aku mulai mencoba memanggilnya. . dengan nada pelan dan gugup aku memanggilnya.
“ta…ta.kaki..”
“ya? Apa?” responnya padaku terlalu singkat dan itu membuatku makin gugup dan meleburkan kepercayaan diriku.
 “aku..ingin mengatakan sesuatu ..”. aku menguatkan diriku lagi. Mencoba menyusun sebuah kata kata yang benar.
“ya? Katakan saja..ada apa?”. Dia menandangku dengan serius. Itu membuatku mengurungkan niatku untuk mengatakan perasaanku padanya.  Aku merundukan kepalaku. Dan semangatku mulai turun lagi. Sangat sulit untukku mengungkapkan perasaan ini pada seseorang yang tak mengerti perasaan kita.
Kami berjalan dengan sangat sunyi…Takaki berjalan agak cepat didepanku. Aku hanya bisa berjalan perlahan. Aku memandang sesekali pada Takaki yang tak mempedulikanku di belakang. Hatiku mulai robek. Aku mulai menghentikan langkahku. Air mataku mulai menetes. Tetes demi tetes air mataku mulai mengalir. Dia membalikan badannya dan bertanya , “akane..ada apa? kenapa kau menangis? . dia mulai membalikan badannya dan berjalan menuju kearahku.
“jangan….jangan pernah bertingkah peduli lagi dihadapanku .” Aku tak ragu mengatakan kata kata itu padanya.aku mengusapkan air mataku yang sudah tercerai menjadi butiran butiran air mata. Dia tak mengatakan sepatah kata apapun. Tiba tiba tanah bergetar. Kami melihat kearah barat. Dan ternyata Roket yang saat kami lihat sudah diluncurkan. Aku dan Takaki memperhatikannya bersama. Aku mengacuhkan perhatian itu pada roket. Tapi aku tetap memandang Takaki yang tak memperdulikanku. Kekecewaaanku sudah semakin besar. Rasa optimis dalam diriku hilang menjadi sebuah kekecewaan yang sangat besar.
Takaki mengantarkanku sampai rumah. Tak lupa anjingku menghampiri dan menjemputku lagi. Lalu Takaki mulai berjalan pergi kea rah rumahnya. Aku memperhatikan dia berjalan pulang kearah rumahnya. Dia tak mengatakan salam padaku . hanya lambaian tangan yang singkat saja yang kudapat darinya. Malam itu. Aku mengurungkan diri dalam kamarku. Aku menyelimuti diriku saat itu. Rasa sedih dan kecewaku bercampur aduk. Air mataku terus menetes butir demi butir. Aku hanya bisa membayangkan alangkah bodohnya aku bisa tak tahu kalau takaki takkan pernah mempunyai perasaan yang sama denganku.   Aku tak bisa menahannya, perasaanku benar benar kacau. Aku tak percaya aku akan menjadi sebodoh ini.  rasa sedih ini bukan hanya sekali saja.
Saat itu pengumuman kelulusan ,dan Takaki menjadi murid peraih beasiswa terbaik. Sedangkan aku hanya mendapatkan kelulusan yang biasa. Aku hanya mendapatkan prestasi memenangkan lomba selancar air. Aku menghampiri dia dan memberikan selamat atas prestasinya. Takaki mengucapkan terima kasih padaku. Bagiku itu sudah cukup karena takaki masih mau bicara denganku. Tapi saat itu takaki meraih tanganku. Dia mengatakan sesuatu yang takkan pernah ku duga.

“Akane…setelah kelulusan ini, aku akan kembali  ke Kyoto. Aku akan mengambil kuliah dan memulai hidup disana. Jadi ..ini salam perpisahan dariku untukmu. Aku harap kau bisa memegang kata katamu saat malam itu. Jadikan diriku menjadi semangat hidupmu. Janjilah padaku.”.
Air mataku keluar, tapi aku tak bisa mengatakan apa apa, perasaanku bercampur aduk. Takaki akan pergi pindah ke Kyoto. Tempat tinggal yang sangat jauh dari tempatku. Dan tak ku sangka bahwa selama ini takaki tahu bahwa aku yang menjadikan dia semangat hidupku. Dia tahu saat malam itu aku berbicara tentangnya. Dan dia tahu saat itu aku hendak mengatakan perasaanku padanya. Tapi hanya kebodohanku saja yang menjadi penghalang.
aku berdiri diam…memandang Takaki pergi dengan taxi. Saat itu aku sadar takaki ternyata akan berangkat segera setelah hari kelulusan. aku segera berlari mengambil motorku . takaki yang sedang naik taxi terus semakin cepat. Sedangkan aku tidak cukup mengejarnya.  Terus ku kejar taxi hingga sampai bandara.  Dia memasuki bandara, dan aku segera berlari kearah pintu bandara. Seorang petugas penjaga melarangku masuk. Aku tak tahu harus berbuat apa. takaki hendak meninggalkan tempat ini segera. Aku ingin mengatakan perasaanku langsung padanya. Tapi semua ini terlambat sekali.
Aku segera berlari kearah pagar penghalang. Dimana pesawat yang dinaiki oleh takaki akan berangkat. Setelah itu..aku hanya bisa memperhatikan pesawat yang mulai terbang …
“Tak ada yang bisa ku lakukan..selain berjanji padanya. Aku akan berjanji padanya bahwa aku tetap semangat hidup untuknya.
Selamat tinggal…Takaki..”


Epilog
Narrator : Takaki
                Mimpiku terus berlanjut. Kini seorang perempuan mendekatiku . dan Akari masih duduk manis disebelahku. Dan disebelah kananku Akane yang sedang memperhatikan Langit Angkasa.  Bintang bintang, Planet-planet yang tampak mulai memudar. Cahaya angkasa makin bersinar terang. Akari berdiri dan dia menoleh padaku.
                “Takaki..bangunlah dari mimpimu.. aku ingin kau menjalani harimu yang nyata dan bukan dalam mimpimu, seseorang telah menunggumu dan kau tak bisa membohongi rasa acuhmu padanya…”

- The End -
Episode II

Sumber : Anime 5 cm per second






Related Post



0 komentar:



:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Merry Christimas, Jangan lupa berkunjung lagi

Shirt Story

Lyrics Can - Winter Story


ShoutMix chat widget

Populer Post

 

Behind This Blog

Foto Saya
Kira Angelic
saya bercita cita menjadi novelis
Lihat profil lengkapku

Reader Community

Peringatan

Note : bagi yang ingin copy paste cerita saya ( cerita pendekar dan cerita lucu buatan saya ) mohon diberi sumber cerita dari www,yugitohimada.blogspot.com